Jumat, 29 Januari 2010

PENGUJIAN KEMURNIAN BENIH

ACARA I

PENGUJIAN KEMURNIAN BENIH

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengujian benih di laboratorium bertujuan untuk mendapatkan keterangan tentang multi suatu benih digunakan untuk keperluan penanaman. Dalam rangka sertifikasi benih, pengujian itu diperlukan guna pengisian label. Tujuan dari kemurnian adalah untuk mengetahui komposisi dari contoh yang diuji yang akan mencerminkan komposisi kelompok benih dari mana contoh tersebut diambil dengan cara – cara yang sudah ditetapkan, dan juga menganalisa macam – macam jenis/ kultivar/ varietas dan kotoran benih pada contoh tersebut dengan identitas yang telah ditetapkan.

Pada prinsipnya, pengujian kemurnian benih di laboratorium merupakan kemurnian secara fisik/ berdasarkan identitas fisik yang telah ditetapkan dengan jalan memisahkan contoh kerja benih ke dalam komponen – komponen : benih, biji tanaman/ varietas lain, biji gulma dan kotoran benih.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum pengujian kemurnian benih yaitu untuk mengetahui bagaimana caranya mengidentifikasi suatu benih sehingga dapat menghasilkan benih yang benar – benar murni dengan membuang atau menyingkirkan benih – benih yang dianggap rusak atau tidak sama varietasnya dengan benih yang akan digunakan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Benih murni adalah benih yang sesuai dengan pernyataan pengirim atau secara dominan ditemukan di dalam contoh benih termasuk benih – benih varietas lain dalam jenis tanaman tersebut. Misalnya :

  1. Benih utuh, benih muda, benih berukuran kecil, benih mengkerut dan benih yang sedikit rusak.
  2. Benih terserang penyakit atau benih yang mulai berkecambah, tapi benih tersebut masih bisa dikenali sebagai benih yang dimaksud. Jika sudah berubah karena adanya sclerotia, smutt balls atau metode balls maka termasuk dalam kotoran benih.
  3. Pecahan benih dengan ukuran yang lebih besar dari ½ ukuran semula. Khusus untuk famili tertentu yang terkelupas kulit benihnya termasuk dalam kotoran benih. Pada kacang – kacangan jika kotiledon terpisah termasuk kriteria benih yang rusak atau kotoran benih.
  4. Unit – unit kumpulan benih ( Multiple Seed Unit )
  5. Unit Benih ( Seed Unit )

Benih – benih jenis tanaman yang termasuk dalam famili sebagai berikut :

1) Bunga Matahari ( compositae )

2) Buck Wheat ( Polygonaceae )

3) Wortel ( Umbelliferae )

4) Velarean ( Velareanceae )

5) Mint ( Labiatae )

Tanpa memperhatikan apakah benih – benih tersebut berisi benih sejati ( true seed ) atau tidak, kecuali diperiksa secara visual terlihat jelas pada benih – benih tersebut.

  1. Semua benih dari rerumputan dimana caryopsis mempunyai endosperma yang berkembang biak dapat diketahui dengan cara ditekan atau dengan menggunakan cahay ( dengan menggunakan Diaphanoscope ). Floret majemuk dan spikelet dari benih seperti dibawah ini, dimana salah satunya lebih dari floret tersebut berisi caryopsis Poa pratensis, Arrhenatherum elatius, dan Chloris ganaya.

Benih tanaman lain ( benih varietas lain ) adalah benih tanaman selain yang dimaksudkan oleh pengirim. Penentuan benih varietas lain sebagai kotoran benih sama dengan pada penentuan benih murni.

Kotoran benih Meliputi benih dan bagian dari benih seperti:

  1. Benih dan bagian Benih

ü Benih yang terlihat jelas bukan benih sejati

ü Benih yang kulitnya sudah terkelupas semua

ü Pecahan benih dengan ukuran kurang dari ½ ukuran sebenarnya

ü Benih rusak tanpa lembaga

ü Benih yang berubah warna misal pada Custuta sp yang berubah warna dari abu – abu menjadi putih kecokelatan

ü Benih hampa atau tidak mentes atau tidak berisi ( Empty Glumes )

ü Sekam, cekang benih, kulit benih dan lainnya

  1. Bahan lain yang bukan bagian dari benih

Merupakan bagian dari benih tetapi bukan bagian dari benih tersebut misalnya tanah, pasir, daun, tangkai, bunga, dan yang lain yang terbawa oleh benih.

Program sertifikasi benih bertujuan untuk memelihara kemurnian dan multi benih dari varietas unggul, menyediakan secara kontinu kepada petani. Kegiatan itu meliputi :

1. Pengujian Lapang

2. Pengujian di Laboratorium

3. Pemeriksaan alat – alat pengolahan benih, cara dan temmpat penyimpanan benih.

BAB III

BAHAN DAN ALAT

Bahan yang digunakan selama melaksanakan praktikum yaitu :

1. Benih Padi

2. Benih Kedelai

Alat yang digunakan selama melaksanakan praktikum yaitu :

1. Meja Pemurnian

2. Pinset

3. Petridish

4. Timbangan listrik

5. Botol penyemprot

6. Kertas HVS

BAB IV

PROSEDUR KERJA

Prosedur yang dilaksanakan dalam praktikum yaitu :

1. Diambil contoh kerja dari benih yang ada dengan jalan pengurangan dengan memakai pembagi benih sehingga diperoleh berat benih yang diinginkan ( Benih padi dan kedelai )

2. Disediakan alat yang akan digunakan

3. Diperiksa contoh kerja ( benih padi dan benih kedelai ) sedikit demi sedikit dengan teliti di atas meja pemurnian dengan dialasi kertas putih untuk memudahkan pemilihan benih ( diingat waktu identifikasi benih ) dan dipisahkan ke dalam komponen benih murni, benih varietas lain, biji gulma dan kotoran benih

4. Dihitung prosentase berat komponen – komponen tersebut terhadap berat contoh benih secara keseluruhan. Prosentase benih murni adalah ( 100% - jumlah prosentase komponen – komponen )

5. Setelah itu diisi tabel mengenai prosentase kemurnian benih.

BAB V

HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Hasil Pengamatan Komponen Benih

Nomor Contoh Kerja

Berat Komponen (gram )

Presentase (% )

Varietas Lain ( a )

Kotoran Benih ( b )

Benih Murni

Varietas Lain ( c )

Kotoran Benih ( d )

Padi

0,6

7,5

98,4

0,71

0,89

Kedelai

13

0,3

93,97

4,9

1,13

Tabel di atas diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

1. Padi

Berat awal padi = 26,5 gram

Berat akhir padi (murni) = 13,2 gram

Berat kotoran padi = 0,3 gram

Berat Varietas Lain = 13,0 gram

2. Kedelai

Berat awal kedelai = 83,8 gram

Berat akhir kedelai ( murni ) = 75,7 gram

Berat Kotoran kedelai = 7,5 gram

Berat Varietas lain = 0,6 gram

Perhitungan padi:

Rumus :

Rumus:

Perhitungan kedelai:

Rumus:

Rumus :

Rumus:

BAB VI

PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan di atas menyatakan bahwa benih yang ada merupakan benih yang baik karena kemurnian benihnya tinggi. Yaitu untuk benih padi memiliki prosentase kemurnian benih 93, 97% dan benih kedelai memiliki prosentase kemurnian benih 98,4%. Data tersebut merupakan bukti bahwa benih itu benar – benar murni walaupun ada beberapa persen kotoran benih dan benih varietas lain. Kotoran benihnya misalnya benih yang rusak, batang, dan daun kering sedangkan benih varietas lainnya pada kedelai misalnya ada kedelai hitam dan kacang hijau serta padi sedangkan pada padi benih varietas lainnya misalnya padi dengan ukuran sangat panjang.

Untuk membuktikan benih itu berkualitas setelah melakukan pengidentifikasian mengenai kemurnian benih, benih yang dinyatakan murni tadi dikecambahkan di dalam petridish selama 1 Minggu dengan diberi air secukupnya, sehingga dengan begitu dapat diketahui bahwa benih yang ada benar – benar bagus atau tidak karena benih yang rupa fisiknya baik belum tentu memiliki daya kecambah yang baik maka dari itu perlu dilakukan perkecambahan terhadap benih – benih tadi.

Apabila benih tadi memiliki daya kecambah lebih dari 80% berarti benih tersebut benar – benar benih yang berkualitas. Karena benih yang berkualitas salah satunya ditandai dengan daya kecambah yang baik selain kemurnian benihnya. Dan pengujian daya kecambah akan dibahas pada bab berikutnya.

Adapun beberapa metode untuk menguji kemurnian benih, yaitu :

  1. Metode Kue ( Pie Methode )

Dengan cara benih ditebarkan di meja serata mungkin hingga membentuk bulatan seperti kue. Hamparan benih tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa bagian dan diberi nomor, setelah itu secara acak dipilih nomor mana yang akan dipakai untuk pengujian

  1. Metode Mangkuk ( Cup methode )

Mangkuk ditata di atas nampan dengan jumlah dan ukuran tertentu. Masing – masing mangkuk diberi nomor dan benih ditebarkan serata mungkin sampai semua mangkuk terisi penuh dan benih habis terbagi rata. Seacara acak dipilih mangkuk nomor berapa yang akan dipakai untuk pengujian.

Tapi praktikum yang praktikan lalukan masih dalam bentuk yang sederhana sehingga tidak menggunakan metode seperti di atas. Metode yang dilakukan dengan cara menebar semua benih ke meja pemurnian dengan diberi alas kertas putih untuk memudahkan dalam identifikasi benih yang nantinya akan dikelompokkan dalam beberapa komponen yaitu benih murni, kotoran benih, dan benih varietas lain.

Dari perlakuan di atas maka dengan mudah benih dipisahkan menurut komponen yang ada. Dan diperoleh data seperti di atas. Pada saat melakukan identifikasi, apabila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan misalnya kehilangan benih maka kehilangan benih yang sedang diidentifikasi tidak boleh lebih dari 5%.

BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan :

Dari pembahasan di atas dapat ditarik simpulan bahwa benih murni yaitu benih yang tidak tercampur dengan varietas lain, kotoran benih dan biji gulma. Benih yang rusak misal benih yang ukurannya kuarang dari ½ dari ukuran yang sebenarnya termasuk dalam kotoran benih. Sedangkan benih varietas lain yaitu benih yang tidak sama dengan benih yang digunakan. Misal pada praktikum benih yang varietas lain pada benih padi adalah benih yang beratnya lebih kecil dari dua ukuran benih padi. Karena pada benih padi yang diguanakn dalam praktikum ada dua jenis padi yaitu padi yang ukurannya lebar dan pendek ( gemuk ) dan padi yang panjang dan langsing. Dan berdasarkan pengamatan di atas padi yang ukuran beratnya lebih besar yaitu padi dengan postur gemuk sedangkan padi yang berpostur panjang dimasukkan dalam benih padi varietas lain.

Sedangkan pada benih kedelai kotoran benih adalah benih kedelai yang rusak dan varietas lain yang ada pada benih kedelai adalah benih padi dan kacang hijau.

Benih yang digunakan untuk praktikum adalah benih yang bagus karena stelah dilakukan identifikasi kemurnian benih presentase kemurnian benihnya tinggi yaitu untuk padi 93,97% sedangkan untuk benih kedelai kemurnian benihnya mencapai 98,4%.

Saran :

Dalam pelaksanaan praktikum praktikan tidak merasakan kesulitan. Karena Asisten sudah baik dan cukup jelas saat memberikan penjelasan mengenai jalannya praktikum. Hanya saja lain kali pelaksanaan praktikumnya beberapa acara tidak dijadikan satu dalam satu hari karena dalam pengamatan praktikan cukup kesulitan karena tidak semua praktikan bekerja sesuai dengan tugasnya masing – masing sehingga praktikum kurang maksimal. Yang paling menyulitkan lagi yaitu pembuatan laporan yang begitu banyak sehingga benar – benar membuat praktikan tidak dapat maksimal dalam membuat laporan.

DAFTAR PUSTAKA

Suwandi, N. Sumarni dan F.A. Bahar. 1995. Aspek Agronomi Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.

http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/p3213022.pdf diakses pada tanggal 10 Januari 2010

www.fpunair.com diakses pada tanggal 12 Januari 2010

www.libang.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 12 Januari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar